Selamat Datang di Blog WURYANANO

Silakan Anda membaca Artikel di Blog ini dengan rileks, tidak perlu terburu-buru. Banyak Artikel menarik dan bermanfaat buat peningkatan kualitas hidup Anda.

Silakan Anda menuliskan komentar atau pendapat di masing-masing Artikel yang telah Anda baca. Pendapat Anda akan semakin menambah perspektif bagi kita semua.

Terima kasih atas kunjungan Anda di Blog Saya ini. Terima kasih sudah mau berbagi lewat komentar atau pendapat Anda di sini.


NOTES:

Blogspot Saya ini SUDAH TIDAK AKTIF sejak 5 Desember 2012. Tulisan Saya tentang Berita Kampus SWASTIKA PRIMA Entrepreneur College menerima Kunjungan dari Kementerian Pendidikan Malaysia adalah sebagai penutup untuk Blogspot ini. Untuk membaca TULISAN Saya, Anda dapat mengunjungi Blog Saya di PORTAL BISNIS INDONESIA.

Friday, November 23, 2007

Mengembangkan Sifat ADIL dan BIJAKSANA

Adil dan Bijaksana, sebenarnya merupakan suatu kesatuan yang sulit dipisahkan. Ini memang logis saja, karena jika seseorang itu bisa bersikap adil, pastilah dia merupakan orang yang bijaksana. Dan, kalau seseorang mempunyai sifat bijaksana, tentunya dia pasti bisa bersikap adil. Ini sebuah sikap paling utama di bidang "budi pekerti luhur" seorang manusia, dan pasti dimiliki oleh mereka yang mau memelihara, mendengarkan, dan mau menaati "bisikan hati nuraninya", yang mana pada dasarnya itu semua adalah bimbingan Allah.


Menaati bisikan hati nurani adalah sebuah cara bagaimana kita bisa mengembangkan sifat adil dan bijaksana, yang sesungguhnya sifat itu sudah ada tertanam di dalam diri setiap orang, jika kita menyadarinya. Tetapi jika mereka tidak mengindahkan bisikan hati nurani ini, ya pasti akan menemui kesulitan untuk bisa bersikap adil dan bijaksana ini.


Di dalam Hadits Shahih Riwayat Tirmidzi, disebutkan: "Orang mukmin yang paling sempurna imannya adalah mereka yang memiliki akhlaq paling baik, dan yang paling lemah lembut". Demikian juga di dalam Al-Qur'an, Surat Al-Hujurat, ayat 15: "Sesungguhnya orang-orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, kemudian mereka tidak ragu-ragu, dan mereka berjihad dengan harta dan jiwa mereka di jalan Allah. Mereka itulah orang-orang yang benar".


Jika kita bisa memahami kandungan makna yang ada di dalam Al-Qur'an dan Hadits tadi, maka setidaknya kita tahu, bahwa Tuhan sudah memberikan petunjuk cara-cara untuk mengembangkan sifat adil dan bijaksana di dalam diri kita ini.


Memiliki sifat adil dan bijaksana ini, bisa membimbing diri kita, bagaimana sebaiknya hidup dan bertindak di tempat dan waktu tertentu, dan bisa mengatasi berbagai masalah atau problem kehidupan dengan tepat dan baik, sehingga kita bisa memahami makna kehidupan ini dengan lebih baik.


Inilah menurut saya sebuah dasar dari bentuk yang dinamakan dengan "kecerdasan spiritual" itu. Kita bisa melihat "tingkat kedalaman kecerdasan spiritual" seseorang itu melalui sikapnya tentang keadilan dan kebijaksanaan ini. Seberapa tinggi seseorang memiliki akhlak yang baik, budi pekerti luhur, maupun sikap positif; itu akan menunjukkan seberapa tinggi tingkat kecerdasan spiritualnya.


Seseorang dengan tingkat kecerdasan spiritual tinggi seperti ini, pasti akan selalu muncul dari dalam dirinya, kemauan dan kemampuan untuk melakukan hal-hal baik, meskipun dia harus "berkorban" untuk itu. Mereka ini dapat menjadi contoh kebaikan dan teladan bagi orang-orang di sekitarnya. Mereka juga lebih mampu menghayati makna kejujuran dan "kesederhanaan hidup" di hadapan Allah SWT, maupun dengan sesama kita.


Salam Luar Biasa Prima!

Wuryanano

2 comments:

Nahria Medina Marzuki said...

Benar Pak...

Kalau kita lebih banyak mendengarkan suara hati, pasti kita akan jauh lebih adil dan bijaksana :)

Pernah ikut ESQ juga ya Pak?

erander said...

Manusia memang makhluk paling sempurna diantara makhluk lain ciptaan Tuhan. Akan tetapi, kita bukanlah suatu makhluk yang lengkap.

Ketika manusia sudah merasa sempurna. Dia berhenti mencari. Kemudian dia merasa seperti Tuhan. Merasa hebat. Padahal semua itu dapat terjadi karena kehendak-Nya.

Oleh karena itu, manusia kurang lengkap jika tidak ada cahaya ilahi.