Saturday, May 17, 2008

MERASA Bisa...Ataukah...TERBUKTI Bisa ?


Sebagai seorang yang masih belajar di kehidupan ini, saya selalu berusaha untuk merasakan, mendengarkan maupun melihat berbagai macam fenomena yang ada di sekitar perjalanan hidup saya. Apapun fenomena yang terjadi di sekitar saya, selalu menarik untuk saya telaah lebih jauh, saya renungkan lebih dalam, demi meningkatkan kadar kualitas pembelajaran saya sendiri.


Berbagai macam orang dengan sifat, sikap, dan perangai berbeda sudah sering saya temui. Mulai orang yang sangat sabar, sangat cuek-masa bodoh, sangat pemalu, sangat pemarah, sangat konyol, sangat bodoh, sangat pintar, sangat cerdas, sampai dengan orang yang sangat "pas" kepribadian dirinya secara proporsional, enak, nyaman, santun, menyenangkan, dlsb... sudah pernah saya bertemu dan berbicara kepada mereka semuanya ini.


Saya senang mengajak bicara, "ngobrol ngalor-ngidul"atau "ngrumpi" segala macam topik ringan seputar kegiatan sehari-hari, kejadian sehari-hari yang sering mereka alami. Senang sekali mendengarkan mereka ini berbicara begitu semangat membara, menceritakan berbagai keberhasilan pencapaian keinginan-keinginannya. Kadang juga prihatin mendengarkan mereka yang cenderung berkeluh-kesah mengenai nasibnya yang kurang mujur menurutnya. Sering juga saya geli mendengarkan mereka yang bercerita tentang nasibnya dengan gaya bertutur yang jenaka, tidak peduli nasibnya kurang beruntung, mereka yang jenaka ini tetap saja gaya berceritanya juga membuat saya geli. Kadang saya ikut mendengarkan kisah yang membuat jengkel dan marah, dari mereka yang memang punya sifat pemarah. Yaa, itulah salah satu kebiasaan dalam pergaulan saya selama ini. Bagi saya ini bisa sebagai "refreshing" sekaligus pembelajaran hidup juga.


Dari berbagai "ngrumpi" tersebut, saya melihat ada kesamaan dalam sifat mereka ini, yaitu senang membandingkan dirinya dengan orang lain...hehehe...termasuk saya juga kok. Menurut saya, nggak ada masalah jika kita membandingkan diri kita dengan orang lain, sepanjang itu positif dan proporsional, sesuai dengan kapasitas diri masing-masing.


Nah, berbicara mengenai kapasitas diri, banyak pengalaman menarik yang bisa saya ambil hikmahnya dari acara "ngrumpi" ini. Kebanyakan hal mengenai kapasitas diri ini, lebih cenderung bernada iri hati atas kemampuan dan keberhasilan orang lain dalam melakukan sesuatu hal yang belum pernah dilakukannya.


Mereka ini tidak mau menerima, bahwa orang lain dengan kapasitasnya masing-masing, secara proporsional mampu melakukan sesuatu hal, yang mereka ini belum pernah melakukannya. Tetapi begitu mereka melihat, bahwa orang itu bisa melakukannya secara mudah saja, maka satu kebiasaan yang paling sering diucapkan mereka adalah: "Wah...kalau begitu saja sih, saya juga bisa melakukannya." "Haalah, gitu aja semua orang juga bisa." "Saya sih sebenarnya juga bisa, tapi saya kan nggak mau saja." "Oalah gitu saja ya, coba saya mau, ya pasti bisalah saya kerjakan." Dan lain sebagainya...


Pernahkah Anda mendengar kalimat seperti tersebut tadi? Yaa, inilah yang saya maksudkan sebagai pembelajaran hidup bagi saya, mungkin juga bagi Anda. Bahkan, saya sudah menulis tiga buku bestseling yang diterbikan oleh penerbit besar nasional saja juga pernah mendapatkan komentar semacam tadi. "Yaa, kalau saya mau menulis buku, pastilah juga bisa diterbitkan oleh penerbit besar...cuma saya nggak mau menulis saja, nggak ada waktu!" Hehehe...ini salah sebuah contoh nyata dari sisi kehidupan saya sendiri.


Yaa, inilah pembelajaran hidup itu. Kita semestinya menyadari, bahwa meskipun kita sudah melakukan suatu hal prestasi, entah itu prestasi kerja, prestasi bisnis, prestasi akademis, prestasi olah raga, prestasi kreativitas, prestasi keberanian, atau berbagai prestasi lainnya... disamping banyak orang yang mengakuinya dan memberikan penghargaan kepada kita, maka pastilah juga banyak orang yang tidak mau mengakui keberhasilan kita. Tidak semua orang bisa meng-apresiasi keberhasilan dan kompetensi diri kita. Inilah hal unik yang selalu saja ada di dalam diri sebagian orang...dan saya bisa belajar menjadi semakin baik dari fenomena ini.


Inilah kejelasan fenomena itu, sebagian orang selalu MERASA BISA melakukan sesuatu hal, setelah melihat orang lain melakukannya secara mudah. Mereka yang "merasa bisa" ini, biasanya selalu memiliki rasa iri hati, menganggap dirinya pasti bisa melakukan apapun yang dilakukan oleh orang lain. Akhirnya, mereka yang punya sifat semacam ini juga punya kebiasaan menganggap ringan prestasi orang lain, bahkan bisa jadi mereka akan selalu mencela apapun prestasi yang telah ditorehkan oleh orang lain.


Mereka yang MERASA BISA ini, selalu meremehkan sebuah prestasi, hanya karena menganggap bahwa dirinya juga bisa melakukan hal yang sama, seperti yang telah dilakukan oleh orang lain itu. Tetapi, mereka ini lupa, bahwa mereka ini bisa dan berani melakukannya setelah melihat contoh dari orang lain yang telah melakukannya secara mudah. Mereka yang punya sifat "merasa bisa" ini TIDAK PERNAH BERANI MENGAWALI untuk melakukan sesuatu hal lebih dulu. Mereka ini SELALU MENUNGGU orang lain untuk melakukannya terlebih dulu sehingga berhasil, barulah kemudian mereka berteriak bahwa mereka juga bisa saja melakukannya persis seperti yang telah berhasil dilakukan orang lain itu.


Yaa, inilah kenyataan sifat negatif sebagian dari kita; bahwa setelah orang lain TERBUKTI BISA melakukan sesuatu dengan berhasil, maka mereka yang MERASA BISA ini pasti berkata bahwa mereka sebenarnya juga bisa melakukan hal yang sama. Mereka yang "merasa bisa" ini biasanya juga akan mencela, jika orang lain ternyata gagal melakukan sesuatu. Jadi mereka dengan sifat negatif "merasa bisa" ini selalu saja mencela, nggak peduli orang lain itu berhasil, lebih-lebih lagi jika orang lain itu gagal...pasti akan semakin mereka cela dan remehkan.


Penting untuk dipahami di sini adalah: MERASA BISA dan TERBUKTI BISA merupakan dua hal yang sangat berbeda maknanya. "Kalau Anda merasa bisa dan mampu melakukan seperti yang telah saya lakukan, kenapa Anda tidak melakukannya sebelum saya?" Hehehe...ini jawaban yang boleh Anda katakan, kalau ada seseorang yang usil berkomentar negatif dan meremehkan prestasi Anda. Jika kita mau menghargai prestasi orang lain secara ikhlas, ikut senang melihat keberhasilan orang lain, menghormati kepeloporan orang lain secara tulus...saya yakin bahwa itu adalah suatu sifat yang sangat mulia. Oleh karenanya, itu bisa menunjukkan kerendahhatian kita dan kedewasaan berpikir serta luasnya wawasan kita, yang pada gilirannya sifat itu dengan pasti akan mengarahkan dan mengantarkan kita kepada tingkat kualitas pribadi yang unggul, suatu pribadi sukses sejati.



Salam Luar Biasa Prima!

Wuryanano

Wednesday, May 14, 2008

Menghormati JIWA, Menuai CINTA...


Seringkali saya berpikir, mengapa negeri tercinta ini selalu timbul bencana, malapetaka, dan berbagai keributan yang sepertinya sulit sekali untuk menjadi reda dan menghilang. Berbagai bencana alam, yang benar-benar disebabkan oleh "kemarahan alam semesta", atau pun bencana yang disebabkan oleh keteledoran manusia, masih ditambah lagi dengan semakin maraknya tindak kekerasan tak bertanggung jawab, serta demo-demo anarkis di segala penjuru negeri...sungguh membuat saya heran dan tidak habis pikir, mengapa semua ini harus terjadi di bumi pertiwi Indonesia ini? Apa yang sebenarnya ada di dalam pikiran dan hati bangsa ini?


Dalam hal ini, pemikiran saya lebih menekankan pada usaha menciptakan dunia lebih cerah, agar manusia di dunia ini, terlebih lagi di negeri ini dapat hidup dalam kebahagiaan sejati. Apakah hal ini dianggap berlebihan? Tidak! Saya pikir hal ini bukanlah suatu yang berlebihan untuk dikatakan. Saya rasa, hal ini adalah sebuah tugas bagi setiap manusia dalam kehidupan pribadinya.


Yaa, inilah tugas bagi kita semuanya, untuk mau mengerti dan menyadari, bahwa untuk dapat menciptakan dunia yang benar-benar cerah bagi manusia, maka sebagai SESAMA MANUSIA haruslah LEBIH SALING MENGASIHI dengan CINTA SEJATI.


CINTA SEJATI memberikan makna bahwa manusia seharusnya memikirkan lebih serius, dan sungguh-sungguh suatu kenyataan yang tidak dapat dibantah, yaitu: "Sebagai sesama manusia yang hidup bersama di dunia ini". Sehingga semestinya dari dasar lubuk hatinya MAU SALING MENGHORMATI keberadaan JIWA masing-masing. Karena JIKA TIDAK, maka perasaan cinta sejati ini TIDAK AKAN MUNCUL dalam HATI manusia. Hal ini merupakan kebenaran universal, dan sangat nyata bagi fenomena kejiwaan manusia. Inilah suatu pengertian mengenai kehidupan manusia yang sangat penting, yang harus benar-benar dipahami terlebih dahulu.


Akan tetapi dari pengamatan di sepanjang perjalanan kehidupan saya, mengenai CINTA yang sangat penting ini, seringkali tidak atau belum pernah dibahas dengan cermat. Bahkan ada kecenderungan diantara mereka yang dikenal sebagai kaum terpelajar, dan tokoh intelektual peneliti kehidupan, kebanyakan HANYA MENEKANKAN pada, "Bagaimana seseorang harus berbicara", dan TIDAK MENJELASKAN "Bagaimana seharusnya seseorang bertindak", yang mana inilah sebenarnya KUNCI UTAMA pemecahan masalah kehidupan manusia.


Saya sendiri berlatar belakang pendidikan Kedokteran Hewan, seorang Dokter Hewan bukan seorang Psikolog atau pun Psikiater, tetapi saya tanpa segan-segan mengatakan, bahwa kemungkinan besar penyebab terjadinya hal seperti itu, adalah kurangnya keseriusan dan ketekunan usaha dalam mempelajari fenomena kejiwaan manusia sampai ke akar-akarnya.


Saya seringkali mengatakan, bahwa apapun yang kita lakukan terhadap "perasaan benar-benar mengasihi sebagai cinta sejati" itu bisa menjadi barometer pengukur fenomena kejiwaan dari "rasa menghormati hidup atau jiwa" itu sendiri.


Dalam kehidupan ini, kita bernafas, makan dan minum, buang air, berkata-kata atau mengucapkan sesuatu, kemudian saling merasakan perasaan hati masing-masing, dan saling memahami... beginilah kehidupan terus berlangsung.


Oleh karena itu, jika kita TIDAK DAPAT MENGHORMATI KEBENARAN dari dasar lubuk hati, maka bagaimana pun juga... dari dalam hati TIDAK MUNGKIN TIMBUL "rasa cinta sejati" ini. Meskipun seandainya Anda berusaha sedapat mungkin untuk bisa mencintai dan tidak membenci, maka hal tersebut tidak ada gunanya...


Karena hal ini merupakan pemahaman yang sangat penting, maka meskipun Anda telah betul-betul mengerti bahwa dengan HATI Anda bisa mengasihi, tetapi jika Anda tidak benar-benar mempunyai "rasa hormat terhadap jiwa", maka "perasaan cinta sejati" yang mulia ini tidak akan pernah menampakkan diri.


Jadi, manusia yang hidup di dunia saat ini, ada kecenderungan mengutamakan PRINSIP EGOISTIS, yang hanya memikirkan keuntungan dirinya sendiri, TIDAK PEDULI dengan keberadaan nasib orang lain, bahkan menganggap hal ini merupakan cara hidup alami. Sehingga, banyak orang membeda-bedakan "penggunaan cinta" sesuai dengan patokan keuntungan dan kerugian untuk dirinya saja.


Inilah yang saya maksudkan dengan kurangnya penghargaan dan penghormatan terhadap keberadaan jiwa manusia. JIWA manusia adalah keadaan nyata dari hidup. Yang dinamakan HIDUP ini mempunyai seluk-beluk yang sangat misterius. Dan, JIWA yang hidup ini merupakan suatu misteri kehidupan itu sendiri. Benar-benar suatu misteri.


Akan tetapi, jika Anda mau menenangkan diri dan merenungkan kenyataan dari keberadaan hidup ini, maka Anda akan merasakan "bertatap muka" dengan berbagai misteri yang ada dalam jiwa hidup yang aktif ini. Dan, secara otomatis dari dalam lubuk hati akan timbul perasaan hormat terhadapnya.


Oleh sebab itu, marilah kita saling menghormati kenyataan jiwa sesama, yang hidup aktif, dengan rasa hormat dari dasar lubuk hati. Bukankah kita semua memiliki tugas bersama untuk mewujudkan cita-cita utama, yaitu berusaha sepenuh hati membentuk dunia yang cerah menjadi suatu kenyataan? Dan, akhirnya kita menjadi Pemilik Cinta Sejati.


Saya percaya, bahwa jika kita semua mau menghormati jiwa, maka pastilah akan menuai cinta. Dengan memiliki perasaan seperti ini, saya yakin bahwa setiap manusia akan dapat hidup secara sempurna dengan sendirinya. Semoga.



Salam Luar Biasa Prima!

Wuryanano

Tuesday, May 6, 2008

MENGERTI Ataukah MENYADARI ?


Saya sebenarnya punya sebuah impian besar, yaitu: "Merealisasikan kebahagiaan material dan spiritual bagi seluruh pegawai dan seluruh manusia, serta memimpin usaha perdamaian di seluruh dunia." Ini sepertinya menjadi sebuah obsesi saya, yang saya sendiri pun tidak tahu apakah impian besar itu benar-benar bisa saya wujudkan kelak. Ataukah hanya sebatas berupa cita-cita mulia yang terlintas di pemikiran saya.


Tujuan utama saya adalah menolong sesama untuk hidup layak, dan berbahagia dalam arti sebenarnya. Jika impian besar saya ini bisa diwujudkan secara nyata, maka itu akan dapat meneguhkan dasar kehidupan manusia secara luas, dan menentukan apakah kehidupan kita sudah sesuai atau tidak, dalam mewujudkan manusia yang berkepribadian unggul bagi diri sendiri, maupun untuk orang lain.


Saya sering mengemukakan tema berbeda-beda dalam menjelaskan "lorong-lorong kehidupan" yang harus dan semestinya dilalui untuk membangun kehidupan manusia. Oleh karenanya, saya berharap pada akhirnya dapat memberikan kesadaran pada mereka yang salah jalan, menunjukkan kesalahannya, menemukan kebenarannya, sehingga membuat mereka ini mampu beradaptasi terhadap kebenaran ataupun kenyataan di kehidupan ini.


Melalui pengalaman dan pengetahuan yang saya sadari juga masih terbatas ini, maka impian besar saya ini anggap sebagai landasan prinsip saya untuk berusaha membimbing dan menyadarkan mereka yang membutuhkan dukungan untuk menjalani kehidupan dengan penuh kebahagiaan sejati.


Oleh karena itu, untuk bisa mewujudkan impian besar saya tersebut, hal pertama yang harus saya lakukan adalah, selain memikirkan kehidupan saya sendiri beserta keluarga besar saya, maka saya sedapat mungkin, sedikit demi sedikit berusaha untuk memahami kebenaran hidup. Jika tidak demikian, saya merasa tidaklah mungkin dapat hidup secara sempurna sebagai manusia. Singkat kata, maksud saya tentang memahami kebenaran hidup adalah sama dengan seperti saat kita mengusir orang-orang jahat yang menganiaya orang lemah.


Seandainya saya sebagai orang awam, yang hanya hidup dan bekerja untuk uang saja, maka saya akan selalu berkata: "Jual lebih banyak...dan semakin banyak lagi. Tingkatkan penjualan!", "Kurangi biaya pengeluaran. Sedapat mungkin undurkan pembayaran jatuh tempo, kalau perlu jangan dibayar!", "Tingkatkan efisiensi di setiap sektor usaha!"


Dan, saya tidak perlu bersusah payah memikirkan hal-hal yang rumit tentang orang lain. Jika saya hanya melakukan itu, memberikan perintah "ini" dan "itu" saja, maka saya yakin, pasti akan memiliki sejumlah perusahaan yang memiliki uang kontan terbanyak di negeri ini. Akan tetapi, saya tidak mau berbuat demikian, dan selalu menghindarinya, karena bagi saya kehidupan ini tidak sama dengan uang.


Impian manusia bukanlah harta dan nama besar saja. Menurut saya, impian manusia yang sebenarnya, dan merupakan tujuan serta misi hidup adalah: "Mempersembahkan diri dengan segenap kemampuan yang dimiliki untuk kebaikan manusia dan dunia."


Dalam menjalankan bisnis sebenarnya juga harus demikian. Namun, bagaimanakah kenyataannya? Jika kita amati secara kasat mata, para pengusaha dewasa ini, kalau mendapat "cek kosong" walaupun jumlahnya sedikit, mereka bersikap seperti siput yang disiram garam, "megap-megap" kehabisan nafas. Dan, ketika mendapat kerugian sedikit saja, mereka mengeluh: "Waduh... Habislah saya. Saya tidak dapat menanggungnya!", lalu melarikan diri.


Para pengusaha semacam itu ada dimana-mana, bagaikan jamur yang tumbuh dan berkembang, dimana perekonomian sedang berkembang dan menggelembung. Mereka ini hanya memiliki ambisi yang dibanggakan pada permukaan luarnya saja, tetapi tidak memiliki keyakinan yang cukup di dalam dirinya untuk bisa benar-benar meraih sukses.


Marilah kita merenungkan diri sejenak.


Dapatkah Anda menyangkal, bahwa banyak pikiran atau ide-ide buruk yang berkecamuk di dalam hati dan pikiran kita, tanpa dapat dicegah? Dan, walaupun pikiran-pikiran buruk tidak ada di dalam hati Anda, tetapi perasaan-perasaan yang menyuramkan hati kadang juga meluap tanpa dapat dicegah dan banyak memonopoli pikiran Anda, seperti: kesedihan, kemarahan, ketakutan, ataupun rasa pesimis. Dan ini seringkali membuat Anda "mati langkah", tidak tahu harus bertindak bagaimana.


Cobalah untuk benar-benar memahami apa yang telah kita dengar, dan menghapuskan perasaan-perasaan buruk dari dalam hati, maka kita membangun kesehatan dan nasib secara benar, agar kita dapat hidup di dalam kehidupan yang layak.


Tidak peduli dengan apa yang telah Anda pelajari, Anda baca, seberapa banyak Anda mendatangi seminar, workshop, ataupun seberapa banyak pengalaman yang Anda miliki; saya sangat yakin, bahwa jika apa yang telah Anda peroleh itu tidak dipraktekkan dalam kehidupan sehari-hari, pastilah kebahagiaan sejati tidak akan Anda peroleh secara nyata.


Pada saat Anda membaca kenyataan yang saya utarakan dalam tulisan saya ini, mungkin Anda akan berterima kasih sambil berpikir di dalam hati: "Ya, memang benar begitu, Pak Wuryanano. Saya juga merasakan hal yang sama." Akan tetapi pernyataan Anda itu seringkali segera terlupakan, setelah Anda tidur dan bangun pada keesokan harinya.


Atau bisa saja Anda dapat memahami kenyataan ini, tetapi karena suatu sebab Anda menjadi sakit, mengalami musibah dalam pekerjaan atau bisnis, atau Anda sedang menerima nasib buruk; maka kejadian negatif itu bisa membuat Anda melupakan pernyataan Anda sebelumnya, yang membenarkan uraian saya tentang kenyataan kebenaran hidup tersebut di atas.


Dalam hal ini, tidak dapat dikatakan bahwa mereka sudah menyadari kebenaran hidup, melainkan mereka hanya mengerti saja. Mengerti dan menyadari adalah dua hal yang sangat berbeda! "Mengerti" adalah hanya mengetahui saja, sedangkan yang dimaksud dengan "Menyadari" adalah benar-benar menerimanya dengan segenap hati dan jiwa. Umumnya Anda hanya tiba pada arti mengerti saja, berterima kasih ataupun merasakan kegembiraan yang amat sangat secara berlebihan, dan Anda menganggapnya sebagai kebahagiaan.


Menyadari adalah tindakan membuang pikiran-pikiran duniawi, dan keyakinan-keyakinan "membuta" tersebut, kemudian Anda menyimpannya sebagai bagian dalam pengetahuan Anda. Sehingga dengan kekuatan hati, maka Anda tidak akan pernah merasa lemah, meski Anda menghadapi nasib yang bagaimanapun juga.


Namun, jika hanya mengerti di permukaan saja, pikiran-pikiran duniawi dan keyakinan-keyakinan "membuta" masih tetap ada di dalam pikiran Anda. Sehingga sampai kapan pun Anda hanya sampai pada tahap mengerti saja, dan tidak dapat mempraktekkannya dalam kehidupan nyata. Hasilnya? Kehidupan Anda akan berakhir tanpa arti, dan pada saatnya Anda akan merasa: "Saya hanya makan, minum, dan buang air saja. Sepertinya hidup ini tidak berguna."


Misalnya, pada suatu malam Anda tidak bisa tidur tanpa alasan jelas, maka timbul pikiran, "Wah...susah nih, tidak dapat tidur. Saya menderita insomnia." Anda hanya mengerti dan berpikir, bahwa jika tidak cukup akan membawa pengaruh buruk, dan kerugian kesehatan dan nyawa. Anda mulai berpikir, "Jika tidak bisa tidur, rasa lelah pada badan akan semakin meningkat, sehingga terjadi kelebihan zat urea, yang dikhawatirkan dapat menimbulkan penyakit sirosis hati atau penyakit ginjal." Pikiran-pikiran yang mengkhawatirkan ini semakin lama tambah menyiksa diri.


Akan tetapi pada saat sama, orang yang benar-benar memiliki kesadaran diri, yakni yang telah berhasil membuang pikiran duniawi dan menghapus keyakinan "membuta", maka perasaan hatinya penuh dengan optimisme.


Pada orang dengan kesadaran hidup, maka jika ada masalah, akan diselesaikan dengan segala pertimbangan. Sehingga, meskipun timbul pemikiran akan penyakit yang membahayakan jiwa atau mengalami nasib buruk; maka dalam hatinya ada kemampuan untuk menyembuhkannya sendiri. Ini merupakan hal amat penting dan tidak bisa diabaikan. Namun, banyak orang yang tidak mempedulikannya, akibatnya mereka jadi sembrono, mudah marah, sedih, takut, menderita, bingung, benci, kesakitan, dan penderitaan-penderitaan lainnya.


Sekali menyadari kebenaran hidup, maka Anda tidak akan mengalami ketidakharmonisan atau perasaan-perasaan negatif yang menghancurkan. Oleh karena itu, kesadaran akan kebenaran hidup sejati, dapat dikatakan sebagai "perisai baja" untuk mencegah "tangan jahat" yang bisa membuat kehidupan menjadi tidak harmonis, dan menghalangi nasib buruk yang bisa menghancurkan kehidupan.


Menyadari tentang kehidupan, adalah sama seperti menyediakan wadah untuk menerima dan menampung ketidakterbatasan kekuatan hidup dan keberlimpahan hidup. Hal ini bukanlah sesuatu yang mudah dilakukan, terutama bagi mereka yang ingin hidup dalam kesempurnaan kebahagiaan sejati. Tetapi ini merupakan hal terpenting di atas segalanya dalam hidup, dan harus dipikirkan dengan serius.



Salam Luar Biasa Prima!

Wuryanano

Tuesday, April 29, 2008

PLACEBO Entrepreneur? Apakah itu?


Dear All,


Melanjutkan tulisan-tulisan saya tentang entrepreneurship dengan segala mitos nya, maka kali ini saya ingin mengajak Anda untuk melihat "fenomena entrepreneur" yang menarik juga untuk diamati. Fenomena entrepreneur ini saya sebut saja sebagai PLACEBO ENTREPRENEUR. Istilah "Placebo Entrepreneur" ini memang istilah karangan saya saja, tetapi ini sangat berkaitan dengan semakin maraknya semangat entrepreneurship di negeri ini.


Anda tentu pernah mendengar atau membaca tentang istilah "Placebo" bukan? Ya, ini sebuah istilah berawal dari kisah seorang dokter yang kehabisan obat, kemudian dia memberikan "obat palsu" yang hanya berupa "gula-gula" kepada si pasien, dan sang dokter memberikan keyakinan dan motivasi, bahwa "obat palsu" dari dokter itu sangat ampuh bisa cepat menyembuhkan penyakit si pasien. Sehingga si pasien bisa sembuh dari penyakitnya, dengan hanya meminum "obat palsu" tersebut. Nah, inilah yang disebut dengan "Placebo Effect" yang memberikan arti sebagai sebuah efek yang menguatkan motivasi diri si pasien untuk cepat sembuh dari penyakit nya.


Sebagai seorang entrepreneur, saya juga melihat bahwa "Placebo Effect" ini juga terjadi di dunia entrepreneurship negeri ini...mungkin juga di negeri lainnya. Adanya efek atau dampak semacam "Placebo" ini saya pikir akibat dari begitu marak nya seminar maupun workshop tentang entrepreneurship yang diselenggarakan pada masa sekarang ini.


Yaa, memang efek placebo ini adalah efek positif yang membangun motivasi diri untuk menjadi lebih baik dan lebih berkualitas dalam menjalani kehidupan sebagai seorang entrepreneur. efek placebo akan sangat membantu seseorang untuk tetap optimis, bahkan semakin percaya diri, semakin percaya kemampuan dirinya untuk bisa menjadi entrepreneur sukses.


Adanya berbagai testimonial atau kesaksian sukses di berbagai seminar dan workshop entrepreneurship, semakin menguatkan efek placebo ini di dalam diri para peserta. Hal ini juga menguatkan diri seseorang untuk bisa menjadi entrepreneur sukses, menjadi seperti seseorang yang telah memberikan testimonial sukses itu. Tentu saja ini sesuatu hal baik sekali, karena efek placebo ini membuat seseorang sangat yakin akan meraih kesuksesan...seperti kisah si pasien yang yakin cepat sembuh tersebut di atas.


Sebagaimana tulisan saya sebelumnya, bahwa ternyata ada saja TESTIMONIAL PALSU di dalam suatu seminar atau workshop entrepreneurship, yang mungkin tujuannya adalah untuk memotivasi peserta agar bersemangat menjadi entrerpeneur dan bisa sukses...tetap saja menurut saya TIDAK BISA DIMAKLUMI...meskipun tujuannya mungkin untuk motivasi.


ADA BEDA PRINSIP MENDASAR, antara OBAT PALSU dari dokter pada kisah di atas, dan TESTIMONIAL PALSU yang diberikan seseorang di panggung seminar atau workshop. Anda tahu perbedaan mendasarnya? Ok, saya mencoba menguraikannya agar mudah dimengerti.


OBAT PALSU:


  • Pasien sudah mengenal betul, siapa Dokter yang didatanginya untuk mendapatkan obat bagi kesembuhan penyakitnya. Tentu saja, dengan berbekal keyakinan dia pada Dokter tersebut, yang sudah dikenal kehebatannya dalam menyembuhkan penyakit, maka si Pasien juga sangat yakin bahwa apapun yang diberikan sang Dokter pasti bisa menyembuhkan penyakitnya. Karena "track record" kehandalan sang Dokter sudah dia ketahui. Oleh karena itu, meskipun yang diberikan sang Dokter adalah "obat palsu" maka si Pasien tetap saja yakin bahwa itu bisa menyembuhkan dirinya dari penyakitnya. Dan, si Pasien sembuh.


TESTIMONIAL PALSU:


  • Peserta seminar atau workshop entrepreneurship, mungkin pada awalnya tidak mengetahui secara jelas, bagaimana sebenarnya si pemberi testimonial. Pada awalnya, mungkin saja takjub dan ikut bersemangat setelah mendengar kesaksian atau testimonial sukses dari seseorang itu. Tetapi, pada saatnya...peserta akan mencari tahu, siapa sesungguhnya sang pemberi testimonial sukses itu. Bagaimana aslinya "track record" sukses dari sang pemberi testimonial tersebut. Saya percaya, sangat mudah saja untuk mengungkap jati diri sebenarnya sang pemberi testimonial sukses itu. Dan, jika si peserta seminar atau workshop ini akhirnya mengetahui aslinya sang pemberi testimonial sukses...yang ternyata hanyalah testimonial palsu, maka Anda pasti bisa menduga akibatnya bukan? Yaa, tentu saja berakibat kekecewaan diri si peserta, karena ternyata testimonial itu bukanlah yang sesungguhnya...alias PALSU. Sehingga efek placebo yang diharapkan muncul dari para peserta menjadi hilang...dan...digantikan dengan efek yang saya sebut sebagai ANTI PLACEBO. Yaa, "anti placebo effect" akan berakibat kebalikan 180 derajat dibandingkan dengan "placebo effect"...sangat bertolak belakang!



So what?


Kembali ke topik utama, PLACEBO ENTREPRENEUR, adalah seseorang yang sangat yakin akan sukses seperti kesaksian atau testimonial sukses yang benar-benar asli dan jujur apa adanya, yang diberikan oleh seorang entrepreneur sejati. Meskipun bisnis sang entrepreneur ini masih sangat kecil, tergolong bisnis mikro...itu justru bisa menimbulkan efek placebo yang luar biasa prima! Seseorang justru akan semakin termotivasi dan terpacu untuk semakin berkembang dalam bisnisnya, berdasarkan kisah sukses sejati yang sesungguhnya, dari mulut seorang entrepreneur sejati. Dan, menjadikan dirinya sebagai Placebo Entrepreneur.


Tetapi sebaliknya, jika seseorang mendengarkan kisah sukses yang hanya bersifat memotivasi, tetapi tidak benar secara keseluruhannya...karena hanya testimonial palsu, apalagi ada tujuan "narsisme" di dalamnya, maka itu juga akan diketahui aslinya dalam tempo yang sesingkat-singkatnya. Ini bisa berakibat kekecewaan bagi yang mendengarkan kisah sukses palsu ini.


Dan, dampak atau efeknya jelas berkebalikan 180 derajat, bukannya para peserta bisa menjadi sosok entrepreneur sejati yang semangat meraih sukses...melainkan mereka justru tidak berani dan tidak percaya diri, akibat mengetahui bahwa sang pemberi testimonial ternyata bukan memberikan testimonial yang sebenarnya...alias memberikan testimonial palsu! Dan, mereka ini saya sebut saja sebagai ANTI PLACEBO ENTREPRENEUR...yaitu seorang entrepreneur yang mengalami "Demotivation" akibat testimonial palsu tersebut.


Dibutuhkan kebijaksanaan bagi setiap penyelenggaraan seminar, training atau workshop entrepreneurship untuk selalu memberikan yang terbaik berupa testimonial sukses asli BUKAN testimonial sukses palsu...meskipun beralasan untuk memotivasi, TETAP TIDAK BISA DIMAKLUMI jika testimonial sukses tersebut palsu adanya.


Anda ingin berperan serta dalam menggerakkan semangat entrepreneurship, dan membangkitkan para calon entrepreneur untuk terus berkarya dan berkembang secara positif, maka lakukanlah dan berikanlah segala hal yang sesungguhnya dan sebenarnya, bukan yang palsu...sehingga akan semakin memberikan "Placebo Effect" bagi para calon entrepreneur ini, sehingga mereka bisa semakin bersemangat untuk berkembang dan bertumbuh...selayaknya PLACEBO ENTREPRENEUR.



Salam Luar Biasa Prima!

Wuryanano

Sunday, April 27, 2008

MITOS Tentang ENTREPRENEUR Lainnya...


Dear All,


Semakin maraknya semangat entrepreneurship di negeri ini, sungguh sangat membanggakan. Berbagai macam seminar dan workshop mengenai cara-cara memulai dan mengembangkan suatu usaha sudah begitu banyak diselenggarakan. Animo masyarakat untuk mengikuti seminar dan workshop entrepreneurship, patut diacungi dua jempol tangan, sungguh menggembirakan.


Sebagai seorang entrepreneur, saya juga sering terlibat di seminar maupun workshop tentang entrepreneurship, yang saya selenggarakan sendiri, maupun yang diselenggarakan oleh institusi lain, baik institusi bisnis maupun lembaga pendidikan. Sungguh sangat menyenangkan, saya bisa ikut memberikan motivasi, wawasan dan kiat-kiat memulai sebuah bisnis mandiri.


Dalam berbagai seminar dan workshop, yang saya terlibat di dalamnya, ada satu hal menjadi perhatian saya tentang dunia entrepreneurship ini. Sebagian peserta selalu memberikan asumsi bahwa seorang entrepreneur itu adalah seorang yang mudah mencari uang dan kekayaan lainnya. Entrepreneur merupakan sosok manusia yang bisa bebas menggunakan waktunya, tanpa khawatir kehabisan uangnya. Enak ya jadi seorang entrepreneur, begitu kata mereka.


Asumsi mereka sesungguhnya benar adanya, memang enak menjadi entrepreneur. Akan tetapi, dalam pembicaraan selanjutnya timbul kesan pada diri mereka, yang menganggap bahwa seorang entrepreneur bisa dengan mudah begitu saja memperoleh kesuksesan dalam bisnisnya. Entrepreneur bisa melajukan bisnisnya secara lancar tanpa hambatan berarti. Singkatnya, menjadi seorang entrepreneur bisa saja secara INSTAN...langsung sukses! Dan, dengan cepat bisa meraih milyaran rupiah. Begitu kesan yang mereka sampaikan ke saya.


Saya mencoba memaklumi mereka tentang kesan entrepreneur instan ini, dengan menanyakan penyebab bisa memunculkan kesan instan tersebut. Mereka memberikan jawaban beragam berkaitan dengan proses instan seorang entrepreneur ini.


Sebagian dari mereka menerangkan pernah hadir di seminar dan ada testimonial atau kesaksian seorang entrepreneur muda, yang mengatakan bahwa dia memulai bisnisnya tanpa modal uang sama sekali, alias modal dengkul, dan bisnisnya jalan lancar sangat menguntungkan menghasilkan uang. Ada juga kesaksian tentang mengawali bisnisnya dengan cara membeli property seperti Ruko, Rukan atau Rumah bahkan Apartemen, juga tanpa modal uang sama sekali, bahkan dia malah dapat uang, nggak keluar uang tapi malah dapat uang. Bahkan kesaksian tentang sukses bisnis property ini sudah semakin bombastis belakangan ini.


Saya katakan kepada peserta seminar dan workshop entrepreneurship, memang mungkin saja benar kesaksian tersebut. Tetapi, saya ingatkan bahwa kesaksian tersebut saya yakin tidaklah mengungkap hal sebenarnya...di dalam prosesnya. Selalu ada yang ditutupi oleh para pemberi testimonial sukses tersebut. Mereka cenderung memberikan testimonial yang tidak sebenarnya, yang bukan kondisi proses sesungguhnya. Mereka lebih memberikan kesaksian hasil akhir saja. Para pemberi testimonial sukses ini ingin dilihat sebagai orang yang benar-benar sukses tanpa modal uang, supaya memberikan kesan WAH HEBAT... kepada peserta seminar atau workshop.


Tentu saja para peserta seminar atau workshop entrepreneurship, akan takjub dengan berbagai testimonial sukses itu, karena peserta jelas tidak tahu hal sebenarnya, bukan? Dan saya juga sangat menyayangkan, para pembicara atau trainer tentang entrepreneurship, yang memberikan contoh testimonial sukses secara TIDAK LENGKAP. Bagi saya, testimonial sukses yang dikisahkan secara tidak lengkap seperti itu, saya sebut sebagai TESTIMONIAL PALSU.


TESTIMONIAL PALSU semacam itu sangat bisa menyesatkan pikiran para calon entrepreneur, bahkan bisa membuat calon entrepreneur menjadi gampang stress. Bagaimana tidak? Testimonial palsu dari para entrepreneur pemula, yang mengatakan bahwa dia bisa tanpa modal uang sama sekali bisa berbisnis dengan hasil selalu menguntungkan, akan sangat menyesatkan calon entrepreneur, karena alasan berbisnis awal tanpa modal uang dan bisa sukses ini tidak pernah diceritakan secara lengkap.


Latar belakang si entrepreneur pemula tanpa modal uang inipun seringkali ditutupinya. Lebih sering dikatakan dia hanya berasal dari keluarga miskin-papa. Tidak pernah dikisahkan secara lengkap, bagaimana kok dia sampai dipercaya orang lain sehingga orang lain tersebut menyerahkan modal uangnya kepada dia. Siapa dibalik itu yang mendukungnya agar orang lain juga percaya kepadanya...juga tidak pernah disebutkan, mengingat dia kan barusan jadi entrepreneur...belum punya 'track record' positif dalam dunia bisnis.


TESTIMONIAL PALSU lainnya adalah tentang bisnis property seorang entrepreneur pemula, yang tanpa modal uang sama sekali, tetapi dia malah dapat uang dari hasil membeli property tanpa uang itu. Kisah ini sering ditampilkan dalam berbagai versi dengan beragam orangnya.


Intinya adalah, si entrepreneur pemula ini, yang bahkan namanya saja tidak pernah dikenal oleh dunia perbankan, begitu mudahnya memperoleh kredit dari Bank, untuk membayar property yang dibelinya, dan dia membayar angsurannya dari hasil pemasukan property nya tersebut. Jadi dia tidak pernah keluar uang sepeserpun untuk membayar angsurannya di Bank.


Inipun tidak pernah dikisahkan secara lengkap, siapa saja yang terlibat dalam proses pembelian property sampai cairnya kredit Bank; mengingat si entrepreneur pemula belum pernah dikenal namanya di dunia perbankan, yang tentu saja tidak mungkin Bank begitu saja mempercayai dia dengan mengucurkan kredit uang. Juga tidak pernah disinggung proses 'appraisal' property nya. Pokoknya hanya dikisahkan, jika mereka mengikuti cara-caranya, maka akan menuai sukses juga...dan banyak orang akhirnya menjadi kecewa!


Hal-hal semacam itulah yang sangat saya sayangkan. Memang boleh saja bermaksud untuk memotivasi semangat kewirausahaan para peserta seminar atau workshop. Tetapi jika mereka selalu memberikan testimonial palsu seperti tersebut tadi, akan sangat menyesatkan pikiran dan kejiwaan orang lain, yang belum paham betul, apa dan bagaimana sebenarnya dunia entrepreneurship itu.


Menjadi entrepreneur tanpa perlu menjalani proses belajar secara berkesinambungan, alias bisa secara instan bisa langsung sukses besar...itu adalah MITOS yang harus diwaspadai. Karena untuk menjadi seorang entrepreneur sejati itu diperlukan suatu proses yang berlandaskan kecakapan, ketrampilan, ilmu pengetahuan, latihan, disamping juga keberanian...secara berkesinambungan.



Salam Luar Biasa Prima!

Wuryanano

Friday, April 18, 2008

MITOS Tentang ENTREPRENEUR...


Dear All,


ENTREPRENEUR... atau WIRAUSAHAWAN sudah menjadi istilah yang sangat populer di negeri ini. Berbagai kalangan begitu bersemangat mendengung-dengungkan tentang pentingnya menciptakan Wirausahawan ini. Definisi yang paling umum tentang Wirausahawan atau Entrepreneur adalah 'Orang yang berbisnis sendiri, orang yang memiliki usaha sendiri'.


Seorang Entrepreneur juga diartikan sebagai orang yang kreatif, penuh semangat, dan pemberani. Dan salah satu motivasinya yang paling kuat adalah 'ketidaktergantungan' yang mengartikan tidak ingin diperintah untuk mengerjakan sesuatu oleh orang lain. Entrepreneur adalah orang yang menciptakan AKSI...yang memiliki gagasannya sendiri dan sangat setia mengikuti gagasannya tersebut.


Jika Entrepreneur sudah mendirikan perusahaannya sendiri, maka perusahaannya tersebut merupakan proyeksi dari dirinya sendiri, dan sebuah bentuk pengungkapan jati diri. Beberapa dari mereka ini mengawalinya dari kecil, dan ada yang tetap saja kecil tidak pernah berkembang dan bertumbuh.


Kemungkinan Entrepreneur yang tetap saja kecil ini, lebih mengutamakan kebebasan dirinya saja, daripada prestasi entrepreneurship nya. Mereka ini umumnya tidak memiliki ambisi dan keberanian mengambil resiko, juga tidak memiliki jaringan bisnis, karena tidak mau berupaya ke sana. Bagi mereka, yang penting adalah mereka sudah bisa bebas berkehendak sesuai kemauannya sendiri, dan tidak diperintah oleh orang lain. Oleh karena itu, seringkali hasil yang diperolehnya dari bisnis sendiri ini jauh lebih kecil dibandingkan gajinya saat dia bekerja di perusahaan milik orang lain.


Tetapi bagi Entrepreneur yang mau membangun dan mengembangkan jaringan bisnisnya, berani mengambil resiko, yang tidak mudah dilumpuhkan oleh kemunduran dan kekacauan dalam perjalanan bisnisnya, maka mereka ini akan cepat sekali membesarkan usahanya.


Meskipun demikian ada satu kesamaan yang saya lihat diantara keduanya, baik entrepreneur yang tetap kecil semenjak muncul, maupun yang cepat membesar bisnisnya, yaitu mereka semuanya memiliki hasrat yang sama: MENGAWASI. Yaa, mereka lebih senang memilih untuk menjadi pengawas orang lain, mengawasi bisnis dan para pegawainya, daripada mereka yang diawasi oleh orang lain di tempatnya bekerja meskipun itu sebuah perusahaan besar.


Mereka yang sudah memiliki 'jiwa entrepreneur' ini memang tidak pernah merasa nyaman, jika mereka bekerja selamanya untuk orang lain, meskipun berada di dalam sebuah organisasi besar tetapi itu kan dikelola oleh orang lain.


Berbagai komunitas wirausaha muncul dan tumbuh bak jamur di musim hujan, menghelat bermacam pelatihan tentang bagaimana menjadi seorang Wirausahawan, menjadi seorang Entrepreneur sejati. Ini mungkin bisa saja dimaklumi, sepanjang komunitas ini benar-benar berisi para Wirausahawan atau Entrepreneur sejati di dalamnya. Sehingga jika komunitas ini menyelenggarakan berbagai pelatihan untuk menjadi seorang Entrepreneur, maka itu bisa diharapkan benar-benar berhasil mendidik para peserta calon entrepreneur itu.


Namun, sekarang ini inisiatif untuk menyelenggarakan pendidikan kewirausahaan ini sudah menjadi sebuah asumsi di dalam masyarakat, bahwa "kewirausahaan itu dapat diajarkan" oleh para akademisi perguruan tinggi, apalagi mereka yang telah bergelar profesor, doktor atau master. Mungkin kalau dipandang dari kacamata mental positif, memang terlihat baik untuk menggerakkan pertumbuhan mental entrepreneurship.


Saya percaya, jika seorang profesor, doktor, atau master pasti mampu melakukan pengajaran dan pembelajaran tentang entrepreneurship kepada para peserta didiknya. Para akademisi ini pasti juga bisa melakukan sejumlah studi kasus sekaligus merancang teori antisipasinya. Saya percaya mereka bisa melakukannya dengan baik.


Tetapi, saya mempertanyakan satu hal saja, yaitu apakah para pengajar dari akademisi ini juga memiliki HASRAT OBSESI ENTREPRENEUR, yang mana hal ini menjadikannya sebuah DAYA KEHENDAK paling mendasar bagi seorang Entrepreneur sejati.


Nah, bagaimanakah seorang akademisi murni bisa memahami dan menyampaikan 'hasrat obsesi' yang menjadi 'daya kehendak' seorang Entrepreneur kepada peserta didik? Jelas TIDAK BISA. Karena mereka tidak pernah menjalani kehidupan seorang Entrepreneur secara langsung. Oleh sebab itu, argumentasi bahwa kita semua mampu menjadi Entrepreneur jika memasuki sekolah formal yang bagus dan mahal, menurut saya lebih cenderung sudah mengarah kepada MITOS.


Kenyataan bahwa para lulusan sekolah formal, yang mengajarkan 'entrepreneurship' tidak semuanya menjadi Entrepreneur bahkan banyak yang menjadi pengangguran elit, itu sudah cukup sebagai bukti bahwa 'semangat kewirausahaan' bisa dengan mudah diperkenalkan kepada semua orang adalah sebuah mitos. Mitos itu sebuah legenda yang tidak ada bukti kebenarannya.


'Semangat Kewirausahaan' atau 'Entrepreneur Spirit' hendaknya diperkenalkan dan diajarkan oleh mereka yang memang benar-benar sebagai pelaku bisnis, benar-benar seorang wirausahawan atau entrepreneur, dan bukan oleh seorang yang tidak pernah menjalani hidupnya sebagai seorang entrepreneur sejati. Karena di dalam entrepreneur spirit ini terdapat hasrat obsesi yang menjadi daya kehendak seorang entrepreneur untuk tetap semangat maju, yang hanya dimiliki oleh seorang entrepreneur sejati.



Salam Luar Biasa Prima!

Wuryanano

Monday, April 14, 2008

Menghindari KONFLIK = Memendam PERASAAN?...SALAH


Dear All,


Pernah kah Anda berada dalam situasi, ketika seseorang mengatakan sesuatu yang membuat Anda marah atau sangat terganggu? Tetapi Anda berpikir, bahwa meladeni orang tersebut tidaklah perlu, dan Anda diam saja sambil menarik nafas panjang saja serta secara tidak sadar juga menggeretakkan gigi Anda. Itu namanya Anda sedang MEMENDAM PERASAAN. Yaa, Anda berusaha memendam perasaan Anda sebenarnya, meskipun itu membuat dada, ulu hati dan lambung Anda terasa sesak...mau pecah saja layaknya...hehehe...


Kebanyakan orang menganggap sikap Anda itu merupakan cara terbaik untuk menghindari terjadinya konflik...agar semuanya baik-baik saja, menjaga situasi aman terkendali... hahaha, kok seperti mau lebaran aja ya. Menurut Anda, apakah menyimpan rasa marah, dongkol itu bisa menyelesaikan masalah Anda, konflik Anda? Tentu saja TIDAK. Mungkin itu hanya terkesan penyelesaian SEMU saja, karena tidak terjadi konflik pada saat itu.


Nah, apa yang akan terjadi pada Anda, jika suatu saat situasi semacam ini terus berkembang? Saya yakin, bahwa suatu saat perasaan sebenarnya akan mencuat keluar, jika Anda tidak merespons dan tetap terus memendam perasaan itu di dalam pikiran dan hati Anda. Dan, akibatnya bisa diduga, perasaan-perasaan itu akan muncul dalam kehidupan Anda berupa ketegangan, kekhawatiran, stres, sakit perut, pusing, sulit tidur, diare, nyeri punggung, sering kencing, makan berlebihan atau sebaliknya malas makan, bahkan bisa sampai menyebabkan depresi kejiwaan...atau hanya sekedar muncul bisulan atau jerawatan...hwekekekek... Yang jelas, jika Anda tetap memendam perasaan berkecamuk di dalam diri Anda sendiri, maka pasti akan muncul aneka gangguan fisik pada diri Anda.


Sebenarnya, Anda bisa saja menghentikan kebiasaan memendam perasaan semacam itu. Caranya adalah Anda harus berusaha merespons perasaan Anda itu. Maksudnya, Anda harus mau mengekspresikan apa yang Anda rasakan, kapan pun situasi itu terjadi. Ini tidak berarti bahwa Anda harus mengungkapkan dengan cara yang agresif dan terang-terangan; melainkan Anda bisa menyampaikannya dengan kata-kata langsung dan jelas dengan bijak, sehingga apa yang sebenarnya Anda rasakan bisa terungkap.


Sangat penting bagi Anda untuk bisa mengungkapkan semua perasaan yang telah Anda pendam. Mungkin ini bagi sebagian orang masih merupakan hal yang dianggap TABU dan terkesan konfrontatif. Inilah kehidupan saat ini. Anda akan mengetahui betapa sebenarnya mudah saja dalam menjalani kehidupan, jika Anda sanggup mengungkapkan perasaan-perasaan Anda. Anda jelas menjadi lebih sehat dan semangat karena Anda berhasil merespons perasaan Anda sendiri dengan sangat jujur...dan tidak tetap memendamnya.


Berkaitan dengan itu, maka semestinya Anda memberikan isyarat yang jelas dan langsung agar orang lain mengetahui bagaimana Anda ingin diperlakukan. Anda harus menentukan batasan-batasan yang jelas dalam hidup Anda, sehingga Anda memiliki pertahanan diri untuk mencegah orang lain mencampuri kehidupan pribadi Anda. Jika Anda tidak membuat batasan-batasan, maka nantinya Anda akan bingung sendiri bagaimana mengatur waktu dan berbagai aspek kehidupan Anda lainnya...termasuk Anda akan sulit mengatur keuangan Anda.


Anda perlu menyadari bahwa identitas diri Anda dibangun berdasarkan pilihan-pilihan Anda sendiri dengan menetapkan batasan-batasan Anda dengan lingkungan di luar Anda. Batasan yang telah Anda tentukan ini adalah titik wilayah orang lain berakhir dan wilayah kekuasaan Anda dimulai. Jadi batasan-batasan ini merupakan garis wilayah pribadi yang memisahkan diri kita dengan orang lain.


Jika orang tidak memiliki garis batas wilayah pribadinya, maka orang ini akan tidak bisa mengatakan TIDAK dalam segala hal. Akibatnya, orang lain akan bisa memanfaatkan dia selama 24 sehari dalam kondisi apa pun! Mungkin saja batin orang semacam ini menderita, tetapi mereka ini tetap tidak bisa berkata TIDAK, jika diminta untuk melakukan sesuatu.


Mereka yang tidak menentukan batasan wilayah pribadinya ini sering merasa benci kepada dirinya sendiri, karena menerima permintaaan orang lain, padahal mereka tidak memiliki waktu lagi. Mereka ini juga sering merasa bersalah, dan malu karena bersedia melakukan sesuatu yang sesungguhnya tidak bisa mereka tangani.


Oleh sebab itu, hal pertama yang harus Anda lakukan jika ingin menentukan batasan wilayah pribadi Anda adalah dengan menghentikan kebiasaan menerima terlalu banyak tanggung jawab untuk menyelesaikan tugas-tugas, kewajiban, dan kebutuhan orang lain...karena memang setiap orang selalu mempunyai kebutuhan!


Jika ada orang meminta Anda untuk melakukan sesuatu, periksalah lebih dulu tingkat kesediaan Anda. Kalau Anda merasa tidak nyaman dan enggan melakukannya, maka katakan saja, "Terima kasih atas kepercayaannya, tetapi mohon maaf saya tidak bisa mendukungnya, saya sedang ada hal lainnya yang harus saya lakukan segera." Saya pikir dengan cara ini, orang lain akan memahami kebutuhan Anda, dan ini sebuah cara yang sopan menolak dengan halus, daripada Anda hanya berkata, "Tidak!" Setelah berkata menolak dengan sopan tadi, diamlah dengan tetap tersenyum. Jangan memberikan penjelasan lainnya. Kemudian lihatlah, orang yang minta bantuan Anda akan terlihat memaklumi keadaan Anda, dan bisa menerima keputusan Anda dengan baik.


Begitu pula sebaliknya. Kita juga harus mau dan sanggup mengatakan YA, pada situasi yang memungkinkan kita memberi kesempatan kepada orang lain untuk membantu kita. Coba amati sekitar Anda. Anda akan melihat contohnya, yaitu ada sebagian orang yang selalu bersedia membantu orang lain bahkan orang yang tidak dikenal sekalipun.


Tetapi giliran mereka membutuhkan pertolongan, eeh... mereka lebih memilih diam saja dengan beban pikiran penderitaannya, alias lebih suka menderita sendirian daripada meminta orang lain agar membantunya. Jika ditanya, "Adakah masalah?" Selalu dijawab, "Ah nggak kok, kami baik-baik saja." Padahal saat itu kondisinya sudah kritis sekali. Saya juga tidak tahu alasannya tidak minta bantuan orang lain. Apakah itu alasan gengsi, takut ditolak, atau khawatir menyusahkan orang lainnya?


Apa pun alasannya, maka mereka ini termasuk orang yang tidak bisa berkata YA. Jika Anda berada dalam posisi yang sebenarnya harus dibantu orang lain, tetapi karena alasan tertentu Anda tidak mau meminta pertolongan. Dan Anda lebih senang menangani permasalahan Anda dengan mengerjakannya sendiri saja; serta tidak mengizinkan orang lain membantu Anda, maka itu sebenarnya Anda telah MERAMPAS kesempatan dan kepuasan orang lain untuk terlibat dalam kegiatan membantu Anda.


Penting juga untuk Anda mengerti di sini, bahwa sesungguhnya ada banyak sekali kepuasan batin dalam hal memberi dan melayani kebutuhan orang lain yang benar-benar membutuhkan dukungan serta bantuan kita.



Salam Luar Biasa Prima!

Wuryanano

Friday, April 11, 2008

Pedoman Komunikasi...KISS = Keep It Simple, Sweetie


Dear All,


Dalam kehidupan bermasyarakat kita, kadang kita sering kehilangan kesempatan baik untuk berkomunikasi dengan tidak mengatakan pada orang lain, apa yang Anda inginkan atau butuhkan dari mereka. Kemungkinan besar ini disebabkan oleh budaya timur yang kita anut sejak kecil, budaya "ewuh-pekewuh" yang sudah dibiasakan mulai usia dini, budaya "sungkan" sejak di dalam kandungan ibu kita. Pada gilirannya, kebiasaan budaya ini menyebabkan gangguan komunikasi pada saat dewasa nanti.


Cobalah Anda cermati lingkungan sekitar kehidupan Anda, dalam konteks berkomunikasi. Apa yang bisa Anda dapatkan? Saya yakin, jika Anda sedikit cermat, maka Anda akan menemukan berbagai kebohongan dalam komunikasi. Kenapa orang sampai berbohong kepada yang lainnya? Saya juga percaya bahwa hal itu biasanya berawal dari rasa takut!


Sekarang jawablah pertanyaan saya ini: Apakah Anda takut, jika Anda mengatakan perasaan Anda yang sebenarnya, mereka akan meninggalkan Anda dan tidak menyukai Anda lagi?


Kalau mau jujur, sebagian besar dari kita pasti akan menjawab YA. Di awal dulu pun, saya juga demikian halnya. Takut, jika saya bicara yang sebenarnya, maka saya akan dijauhi teman. Khawatir, jika saya berterus-terang, nanti bisa berakibat saya menjadi orang menyebalkan.


Pada saatnya saya paham, ternyata jika saya mulai mengatakan segalanya dengan jelas dan terus terang, mereka tidak akan meninggalkan saya, tetapi justru menjadi semakin dekat, karena mereka mengetahui apa yang sebenarnya saya rasakan.


Penting untuk dipahami, bahwa kebanyakan orang merespons kebutuhan kita, jika kita mengatakannya. Kalau kita tidak terbuka dengan keinginan kita, maka orang lain akan merespons dengan informasi yang keliru. Jika terjadi kekeliruan dalam informasi, maka tentu saja dampaknya bisa membuat kita semuanya bingung, marah dan stress. Pahamilah, orang lain tidak bisa menebak apa yang kita butuhkan.


Oleh karena itu, kita perlu memberi isyarat yang jelas dan langsung, sehingga mereka pun tahu apa yang kita inginkan. Dan, kita juga harus mendorong orang lain, untuk memberi isyarat yang jelas dan terus terang, sehinga kita bisa mengetahui apa yang sebenarnya mereka butuhkan dari kita. Saya yakin, Anda pun akan berusaha untuk memperbaiki tindakan Anda, jika seseorang mengatakan dengan jelas apa yang dibutuhkannya, bukan? Nah, orang lain pun akan bersedia melakukan hal sama buat Anda.


Formulasikan apa yang ingin Anda katakan, sejelas dan sesingkat mungkin, sehingga mudah dipahami teman bicara Anda. (Sengaja saya katakan "teman bicara" bukan "lawan bicara", karena sangat bertolak belakang pengertian "teman" dan "lawan"). Nah, formulasi inilah yang saya maksudkan dengan KISS sebuah akronim Keep It Simple, Sweetie (bukan Keep It Simple, Stupid, beda rasanya bukan?). Katakan apa yang ingin Anda katakan...setelah itu diam lah, dan tetap tenang. Berilah kesempatan teman bicara Anda menanggapinya, jangan berusaha menebak-nebak apa yang dipikirkannya...itu nanti berakibat Anda bisa melontarkan "kata-kata bodoh" yang akan memperlemah pernyataan Anda sebelumnya.


Banyak orang merasa telah dianugerahi kemampuan untuk mengritik orang lain. Mereka ini tidak kesulitan mengekspresikan, mengatakan, dan memaksakan pendapatnya kepada orang lain. Mereka terkesan selalu marah pada kehidupan! Mereka akan mudah mengeluh jika sedikit saja mengalami hal yang menurutnya merugikannya. Jika Anda bertindak seperti mereka ini, maka itu justru akan membuat Anda kehilangan hubungan baik dengan teman-teman Anda, bahkan pekerjaan dan bisnis Anda.


Oleh sebab itu, kenalilah motivasi komunikasi Anda sebelumnya. Jika Anda merasa harus mengekspresikan komunikasi Anda, maka gunakan cara ini hanya untuk mengubah hal-hal yang bisa membuat hidup dan kehidupan Anda menjadi luar biasa prima, lebih sehat dan lebih baik.


Kalau Anda menginginkan perubahan, ungkapkan lah dengan jelas dan terus terang, apa yang Anda inginkan. Jangan menjadi orang yang suka membohongi perasaan sendiri. Akan tetapi Anda harus selalu memikirkan, apa yang ingin Anda katakan itu. Kemudian sampaikan keinginan Anda itu secara asertif dan jelas. Hindari untuk bertindak secara pasif atau agresif.



Salam Luar Biasa Prima!

Wuryanano