Selamat Datang di Blog WURYANANO

Silakan Anda membaca Artikel di Blog ini dengan rileks, tidak perlu terburu-buru. Banyak Artikel menarik dan bermanfaat buat peningkatan kualitas hidup Anda.

Silakan Anda menuliskan komentar atau pendapat di masing-masing Artikel yang telah Anda baca. Pendapat Anda akan semakin menambah perspektif bagi kita semua.

Terima kasih atas kunjungan Anda di Blog Saya ini. Terima kasih sudah mau berbagi lewat komentar atau pendapat Anda di sini.


NOTES:

Blogspot Saya ini SUDAH TIDAK AKTIF sejak 5 Desember 2012. Tulisan Saya tentang Berita Kampus SWASTIKA PRIMA Entrepreneur College menerima Kunjungan dari Kementerian Pendidikan Malaysia adalah sebagai penutup untuk Blogspot ini. Untuk membaca TULISAN Saya, Anda dapat mengunjungi Blog Saya di PORTAL BISNIS INDONESIA.

Monday, September 17, 2007

BEBERAPA PENYEBAB BANGKRUTNYA BISNIS...

Dear All My Friends,

Beberapa rekan Entrepreneur atau TDA kirim sms, telepon, dan e-mail ke saya, berkaitan berbagai permasalahan bisnis, yang pada akhirnya membuat mereka menjadi bangkrut, terpuruk hidupnya, hampir bercerai dengan istrinya, stres, depresi, dan masih banyak lagi hal negatif terjadi pada dirinya. (Maaf, saya tidak bermaksud memberitakan hal negatif). Hal tersebut lebih disebabkan oleh kebangkrutan dalam bisnis, dan sebagian ada yang kapok memulai bisnis kembali. MasyaAllah.

Ada beberapa hal, menurut saya lho; bahwa seorang Entrepreneur atau Pengusaha atau TDA, bisa jatuh terpuruk bisnisnya, rugi, bahkan pailit atau bangkrut, yaitu bisa disebabkan oleh:

1. Terlalu ambisius, sehingga action bisnisnya tanpa perhitungan sama sekali. Modal nekad doang. Yang penting jalan dulu. Akhirnya ya benar-benar jalan merosot terus ke bawah.

2. Terlalu banyak pakai duit orang lain...atau terlalu BODOL (Berani Optimis Pakai Duit Orang Lain). Sehingga berakibat lupa diri, bahwa itu duitnya orang lain yang harus dikembalikan juga...bukan duitnya sendiri. Nah, karena lupa diri ini, maka cara pakai duitnya juga bisa saja sembarangan, gak pakai perhitungan untung rugi bisnis. Asal pakai saja, urusan...menyusul belakangan.

3. Merasa terlalu "motivated & populer", sehingga sampai "over self confidence". Seseorang jika sudah terlalu "over self confidence"...biasanya juga "over expectation", berlebihan dalam harapan mencapai sasaran-sasaran bisnisnya. Dia berpikir, karena sudah punya kepercayaan diri tinggi dan sudah populer, maka bisnisnya pasti lancar jalannya. Ini juga bisa menyebabkan berpikir "menggampangkan" relasi bisnisnya. Akibatnya bisa dijauhi, bahkan ditinggal relasinya, karena sering tidak sepaham. Kalau sudah begini ya gak bisa maju bisnisnya doong.

4. Tidak mau & tidak cepat belajar tentang kondisi dari lingkungan bisnisnya. Sering mengabaikan "bisikan hati nurani", sehingga kepekaan intuisi bisnisnya tidak terasah.

5. Sangat gampang terpengaruh lingkungan sekitarnya. Sehingga menjadi mudah terseret seperti model lingkungannya. Menjadi lupa untuk "memfilter" segalanya.

6. Terlalu menjaga gengsi pribadi. Sehingga sangat ingin orang lain tahu, bahwa dia sudah sangat sukses. Ini berakibat memilki sifat konsumtif banget. Sungguh berbahaya, karena ada keinginan yang kuat untuk pamer hal-hal bersifat fisik, sebelum waktunya.

7. Kurang memiliki rasa empati bisnis. Ini terkait dengan BODOL tadi. Jadi asal "gasruk" saja...asal "sikat" dulu. Tidak mau merasakan dan mencermati lebih dulu, bagaimana sebenarnya bisnis yang mau dijalankan tersebut.

8. Terlalu mengedepankan / mengutamakan kepentingannya sendiri lebih dulu. Lebih banyak berpikir untuk meraih keuntungan pribadi dulu. Sering mengabaikan kebutuhan relasi bisnis. Padahal bisnis itu harus seimbang, kepentingan orang lain juga harus diperhatikan.

9. Tidak terbuka terhadap relasi bisnis, selalu ada yang disembunyikan. Bisa dibilang juga, kurang jujur mengungkapkan bagaimana bisnis sebenarnya. Kejujuran itu modal utama bisnis. Jujur adalah mata uang yang berlaku dimana pun.

10. Kurang sekali memberi dan melayani orang lain. Atau bahasa singkatnya: kurang bersedekah. Nah, kalau sudah seperti ini, biasanya juga kurang perhatian kepada konsumen atau "customer" nya. Tidak bijak melayani dan merawat konsumen. Padahal ini sangat penting untuk loyalitas konsumen kita. Sebenarnya, pada kondisi apa pun kita ini, banyaklah bersedekah. Bantulah orang lain sebanyak mungkin, apalagi konsumen kita. Ini sering dilupakan.

11. Kurang ikhlas menjalani kehidupannya. Kebanyakan lebih sering berpura-pura ikhlas, bukan ikhlas yang sesungguhnya. Ini bisa berbahaya bagi dirinya...khususnya mental dan imannya.

12. Kurang pandai bersyukur. Apa pun yang terjadi sebenarnya selalu patut untuk disyukuri. Bersyukurlah di saat kaya, sebelum miskin. Di saat sehat sebelum sakit. Jika pandai bersyukur, niscaya InsyaAllah selalu dibantu Allah dalam menangani kehidupannya....karena orang yang pandai bersyukur pastilah selalu ingat Allah SWT di dalam setiap langkahnya.


Semoga uraian sederhana saya di atas tersebut, bisa memberikan tambahan wawasan buat rekan Entrepreneur atau TDA...agar senantiasa berhati-hati dan waspada terhadap "jebakan-jebakan" seperti di atas; yang pada dasarnya lebih disebabkan oleh diri kita sendiri.


Salam Luar Biasa Prima!

13 comments:

Anonymous said...

Wow.. ndak sengaja ketemu pak wuryanano di Lingkar LOA...

Saya arianto dari IMR pak.. seminar di Marriot kemaren dulu itu loh...


Thanks.
www.seo-id.com

Adzan W. Jatmiko said...

wah terima kasih pak wuryanano (panggilannya apa pak...)
postingannya bagus sekali untuk introspeksi diri kita :)
saya print ah...

Adzan Wahyu

Seviyana Kurniawan said...

Terimaksih pak postingnya, hal tsb mengingatkan pengalaman saya 4thn yg lalu, dulu saya seorg TDA dan skrg seorg TDB. tp saya sudah berencana kembali lagi menjadi TDA dg persiapan yg lebih baik lg dg bimbingan dr teman2 di komunitas TDA.

Salam Kenal
http://seviyana-kurniawan.blogspot.com/

Eko June said...

Thanks a lot pak atas pencerahannya.

Inti yang saya tangkap adalah 'terlalu' dan 'kurang'. Berlebihan memang sifat dan sikap yang bahkan tidak disukai oleh Allah SWT. Jadi memang perlu analogi menyetir mobil dalam bermain gas dan kopling, kapan menekan, kapan menarik. Atau bermain layangan agar bisa melayang, kapan mengulur, kapan menarik.

Jika 'terlalu' maka mobil akan melaju menerobos sulit dikendalikan dan layangan akan 'putus tali', jika 'kurang' maka mobil lambat bergerak dan layangan tidak akan meninggi.

Melihat 'keatas' sebagai ambisi mencapai kesuksesan tapi perlu dikontrol dengan melihat 'kebawah' .. apakah sudah ikhlas, sedekah sudah beres, silahturahmi sudah jalan, mendzalimi orang lain sudah tercegah, ridho ortu sudah didapat, tawakal sudah mulus.

Wah, koq komennya jadi kepanjangan gini :). Maaf maaf. Thank again ya pak Nano, very inspiring dan membuat saya yg masih pemula ini memiliki panduan agar tidak 'terlalu' atau 'kurang'. :)

Wassalam.

Eko June
www.ekojune.com | YM : eko_juna

Ummi Kamilah said...

Subhanallah..terima kasih pak Wuryanano atas informasinya.
Membuat saya yang baru memulai usaha ini lebih berhati2 dalam bersikap dan menjalani usaha.

Salam,
Ummi Kamilah
(k_milah79@yahoo.co.id)

Adib Munajib said...

Tulisan cak Wuryanano ini sarat dengan pesan spiritual dan melengkapi sebuah buku yang berjudul How Companies Fail....???

Untuk itu dalam kesempatan ini saya bersyukur sekali, walaupun saya masuk dalam dunia BISNIS yang "abu-abu", masih ada teman-teman yang benar-benar memiliki jiwa entrepreneur yang dilandasi jiwa memberi dan melayani.

Untuk itulah menurut saya bisnis adalah kepercayaan, bisnis bukan hanya sebentuk koar-koar IKLAN yang mengatakan produknya nomor wahid namun kenyataannya produknya tidak berkualitas, mestinya kita kejar kualitas dulu baru kita bermain IKLAN.

Silahkan kita bisa belajar kepada siapapun tentang bisnis, silahkan kita bisa berteman dengan siapapun, silahkan kita bisa bergabung dengan milist manapun dan milist apapun, namun alangkah baiknya dari sekarang kita fokus dan cukup mempunyai satu profil saja seorang mentor, teman atau milist yang benar-benar tulus dalam menularkan ilmu dan pengalaman entrepreneurnya kepada kita.

Tapi juga jangan lupa dalam mencari ilmu dan belajar syaratnya juga butuh investasi biaya dan waktu, namun jangan sampai kita mengeluarkan investasi biaya dan waktu kepada lembaga-lembaga pengajaran bisnis atau milist-milist yang hanya mengejar kuantitas bukan mengejar kualitas.

Mudah-mudahan dengan modal pondasi mental entrepreneur yang kita pelajari dari mentor, teman dan milist yang tulus, bisnis kita tidak akan mengalami kehancuran yang fatal.

Salam,

Adib
www.aswira.blogspot.com

Rosihan said...

Tulisan Cak Nano selalu saya SAVE, saya memahami betul spirit tulisan dibawah ini yang memberikan lampu kuning untuk TDA/Enterpreneur ... pesan utamanya adalah Waspadalah ...waspadalah ...

Di dunia bisnis, memang kita harus selalu menengok lampu kuning, jangan melihat lampu hijau terus, karena suatu saat bisa ketemu lampu merah.

Dan ketika melihat lampu-lampu itu, segera pasrahkan 100% pada Sandaran Spiritual Anda, suatu fondasi yang sesungguhnya dalam perjalanan kehidupan Anda.

salam
rosihan
(rosihan9@yahoo.com)
(0812-9019898, YM:rosihan9)

Maramuda said...

Betul sekali mas,saya juga pernah mengalaminya.

maramuda (maramuda@yahoo.com)

Anang Pramana,SKOM,MM said...

Bangkrut ??
Sesuatu yang paling tidak disenangi pelaku bisnis...
mudah2an sharingnya membuat instropeksi diri...untuk mengevaluasi yg kita lakukan untuk meraih hasil maksimal dan membuang kata "BANGKRUT" dari bisnis kita.
satu mungkin yang juga perlu dilakukan bagi para pelaku bisnis : Maintenace ralasi dan Customer...karena bisnis kita sangat terpengaruh dari relasi-relasi kita dan customer kita ?nggih ngoten Pak ?
artikel berikutnya semoga tentang cara maintenance relasi dan customer ya pak !!!!
kita tunggu !!!
wassalam
Luar biasa prima !!!

MOMMO said...

wahhhh benar-benar bisa dibuat pelajaran berharga, tulisannya inspiratif :D

KhamShe said...

Assalamu'alaikum...
Salam kenal pak bos..mantap bisnisnya banyak banget..Postingannya mengingatkan bagaimana rasanya orang jatuh bangun membesarkan bisnis. Terus posting ...sangat bermanfaat.

St.Parapatiah said...

Pak Nano, terima kasih mampir ke blog saya yang kebetulan banayak berbahasa barat (Minang). Tapi kalau masuk ke bilik yang lain Darultda.blogspot.com atau parapatiah.blogspot.com berbahasa nasional kok.

Eh kok ke yang lain, ada satu lagi pak Nano yang menyebabkan bisnis bangkrut, yang saya alami, terlalu percaya sama orang, sehingga kurang kontrol.

Saya sering baca tulisan pak Nano di milist TDA. Trims ya pak, mampir ke bilik saya nan berminangan.

the fool said...

Pak Nano, memang tantangan bagi pebisnis pemula seperti saya (dan mitra hidup) adalah menyeimbangkan antara keberanian untuk maju mengambil risiko, dengan kemampuan untuk mengerem.

Seperti yang mungkin Pak Nano atau rekan lain pernah alami, ada kalanya kami perlu memutuskan untuk maju tanpa banyak kalkulasi, karena saat selesai menghitung mungkin peluang sudah lewat atau semangat keburu turun. Atau kadang terpaksa stop dulu dan mulai kalkulasi ulang karena merasa mulai mendekati tersesat--arahnya mau ke mana nih.

OOT: Pak Nano, kemarin saat saya diundang untuk bicara di depan para penulis Kompas di Grha Kompas Gramedia Bandung, saya sempat membaca buku "The Touch of Super Mind", di ruang tunggu. Sangat menarik... sayang saya harus meninggalkannya di tengah membaca.

Kalau tidak salah itu seri yang kedua, ya, Pak? Apakah Pak Nano tertarik untuk bertukar buku dengan saya? Kalau iya, bisa tolong beritahu saya alamat kirim Bapak ke email saya? (di a_scriptwriter AT yahoo DOT com)