Selamat Datang di Blog WURYANANO

Silakan Anda membaca Artikel di Blog ini dengan rileks, tidak perlu terburu-buru. Banyak Artikel menarik dan bermanfaat buat peningkatan kualitas hidup Anda.

Silakan Anda menuliskan komentar atau pendapat di masing-masing Artikel yang telah Anda baca. Pendapat Anda akan semakin menambah perspektif bagi kita semua.

Terima kasih atas kunjungan Anda di Blog Saya ini. Terima kasih sudah mau berbagi lewat komentar atau pendapat Anda di sini.


NOTES:

Blogspot Saya ini SUDAH TIDAK AKTIF sejak 5 Desember 2012. Tulisan Saya tentang Berita Kampus SWASTIKA PRIMA Entrepreneur College menerima Kunjungan dari Kementerian Pendidikan Malaysia adalah sebagai penutup untuk Blogspot ini. Untuk membaca TULISAN Saya, Anda dapat mengunjungi Blog Saya di PORTAL BISNIS INDONESIA.

Wednesday, April 2, 2008

Miliki LIABILITAS... Mengapa Tidak?


Dear All,


Sebagian besar dari kita, pasti sudah pernah baca tulisan Robert T. Kiyosaki, tentang teorinya yang memisahkan secara tegas antara ASET dan LIABILITAS. Bagi Kiyosaki, yang membedakan aset dan liabilitas adalah CASH FLOW atau aliran uang kas atau tunai.


ASET adalah harta yang memberikan aliran kas bagi tabungan kekayaan Anda, yang setiap saat membantu Anda meraih kesuksesan secara finansial. Yang dimaksud dengan aset, misalnya: rumah yang dikontrakkan, mobil yang disewakan, uang yang diinvestasikan, kekayaan intelektual yang memberi royalti, tanah yang dibudidayakan atau disewakan, atau kamar-kamar rumah yang untuk kos-kos an. Yaa, pokoknya segala sesuatu barang yang menghasilkan uang masuk kantong lah.


Sedangkan LIABILITAS adalah barang yang bisa menguras isi tabungan kekayaan Anda, dan mungkin bisa membuat Anda pailit, karena bisa membuat Anda mengeluarkan uang melulu. Yang dimaksud dengan liabilitas, misalnya: mobil pribadi, rumah pribadi, koleksi busana dan sepatu, televisi pribadi, handphone pribadi, komputer pribadi, kartu kredit Anda, keanggotaaan di Club Bergengsi. Pokoknya segala barang bersifat pribadi, yang tidak menghasilkan uang masuk kantong Anda, tapi Anda justru keluar uang karenanya.


Yaa, itulah teori kecerdasan finansial yang digulirkan Kiyosaki, dengan memisahkan ASET dan LIABILITAS. Sehingga itu terkesan bertentangan dengan teori akuntansi dan perpajakan, yang mana keduanya tersebut dimasukkan ke dalam kolom aset atau harta kekayaan.


Karena teorinya yang "melawan arus" inilah, nama Kiyosaki bisa cepat terkenal, meskipun banyak bukti yang mengatakan bahwa Robert T. Kiyosaki bukanlah seorang pengusaha sukses. Dia hanyalah seorang penulis buku laris. Jadi Kiyosaki ini memang memiliki kekuatan imajinasi bagus sehingga bisa menggulisrkan teori baru mengenai ASET dan LIABILITAS.


Sayang sekali, teorinya ini tidak didukung oleh teori dan kebijakan akuntansi dan perpajakan di seluruh dunia. Kalau Anda mengisi laporan akuntansi dan perpajakan pribadi Anda, tetap saja harus memasukkan ASET dan LIABILITAS milik Anda ke dalam kolom aset atau harta kekayaan...nggak boleh dipisahkan seperti teori Kiyosaki. Bisa jadi perkara nanti.


Saya sendiri, setelah kenal teori pemisahan antara ASET dan LIABILITAS ini, tentu saja saya coba melakukannya secara bijak, sesuai dengan pola hidup saya sebagai seorang entrepreneur.


Ada hal unik dan lucu menurut saya berkaitan dengan teori finansial si Kiyosaki ini. Beberapa rekan entrepreneur yang saya kenal, ternyata benar-benar menerapkan 100% teori pemisahan aset dan liabilitas ini. Mereka ini begitu cermat memakai teorinya Kiyosaki.


Bahkan ada diantara mereka ini yang berkata kepada saya yang intinya begini, "Buat apa kelihatan kaya dengan memiliki banyak liabilitas. Itu kan sebenarnya semu, kelihatannya banyak memiliki aset, padahal itu liabilitas. Kelihatan kaya raya, padahal sebenarnya miskin." Hehehe...saya hanya tersenyum di dalam hati, mendengar mereka ini.


Luar Biasa Prima! Pemikiran Kiyosaki benar-benar diserap olehnya 100%. Mereka ini selalu menanyakan kepada dirinya sendiri dengan pertanyaan ini, "Benarkah uangnya layak dikeluarkan?" Segala sesuatu yang dilakukannya, selalu dicermatinya, apakah itu aset atau liabilitas?


Apa yang terjadi kemudian di dalam kehidupannya? Sebagian rekan saya ini hidupnya menjadi tidak harmonis, menurut pandangan saya. Hidupnya terkesan jauh dari kebahagiaan. Padahal setahu saya, mereka ini juga seorang entrepreneur yang sudah berpenghasilan milyaran rupiah dalam satu tahunnya. Tetapi hidupnya terkesan sangat irit, dan sudah mengarah kepada sifat pelit, bahkan untuk dirinya sendiri dan keluarganya. Karena segala sesuatu pengeluaran selalu dihemat dengan sangat ketat, jika itu menurutnya sebagai liabilitas! MasyaAllah.


Coba saja Anda bayangkan, bagaimana mereka ini menghemat dengan sangat ketat, sampai-sampai sangat jarang membeli makanan ringan seperti kue camilan untuk anak dan keluarganya. Juga masih mikir-mikir jika mau beli perlengkapan rumah tangga, jika nggak terpaksa karena memang sudah rusak, sangat hemat dalam pemakaian listrik, sehingga rumahnya kelihatan suram, kalau ada tamu, sangat sulit menawarkan minuman. Bahkan mereka juga ada yang menyesal telah menyekolahkan anaknya ke sekolah mahal. Wah..wah..


Ketika saya coba menanyakan ke mereka ini, mengapa kok ngirit banget sih hidupnya. Mereka menjawab, kan yang penting tabungan banyak, punya investasi besar, tidak punya hutang, punya property banyak, dan banyak kekayaan tersembunyi lainnya. Buat apa kita mesti menunjukkan kekayaan kita dengan gaya hidup menyolok, padahal banyak hutang. Lebih baik sederhana seperti ini, tapi kan sebenarnya kami kaya raya, katanya. Hwakakakak... saya ketawa di dalam hati dan berkata, nyindir nih...


Yaa, beberapa rekan saya ini memang benar-benar sedapat mungkin menghindari yang namanya LIABILITAS...tapi menurut saya itu terlalu berlebihan, meskipun menurut dia dan beberapa orang lainnya ya masih wajar saja. Memang hidupnya senang yang model begituan.


Beda banget dengan saya. Saya selalu berusaha menikmati kehidupan ini secara bijak serta benar-benar bisa dinikmati dan nyaman, bagi saya, istri, dan anak-anak saya. Pokoknya kehidupan saya sekeluarga harus enak, menyenangkan, dan setiap harinya sangat membahagiakan. Perbaikan dan peningkatan kualitas kehidupan selalu saya lakukan secara kasat mata bisa dilihat jelas dengan mata telanjang, bahwa saya dan keluarga memiliki segala sesuatu yang mewakili kenyamanan dan kebahagiaan hidup.


Sebagian rekan saya, khususnya yang seperti tadi, berkomentar bahwa hidup saya terlalu konsumtif, terlalu banyak liabilitas yang saya miliki...hehehe... Saya hanya menjawab, bahwa memang hidup ini sebuah pilihan, dan saya memilih pola hidup seperti yang saya jalani beserta seluruh keluarga saya. Dan, saya beserta keluarga saya merasa enak, nyaman dan bahagia. Disamping itu, orang lain yang melihat saya juga menganggap saya orang yang sukses dan makmur sejahtera...itu saya anggap sebagai do'a buat saya.


Dampak positif lainnya, banyak yayasan sosial, yatim-piatu yang datang ke rumah saya meminta dukungan dana dari saya...ini saya anggap kepercayaaan Allah bagi saya, dan insyaAllah itu semakin membuat saya sukses lahir batin.


Dan, pada gilirannya... lingkungan saya sangat menghargai dan menghormati saya (meskipun saya nggak gila hormat) secara otomatis, yang mana itu tentu saja sangat berpengaruh bagi kehidupan saya. Saya jadi semakin disiplin menjaga segala tindak tanduk perilaku saya agar selalu positif dan kondusif...ini insyaAllah juga dapat pahala dari Allah SWT, sehingga saya dan keluarga saya semakin banyak rejeki dan barokah.


Nah, itulah tadi pola hidup saya, yang memiliki banyak liabilitas, menurut rekan-rekan saya penganut teori Kiyosaki ini.


Dengan memiliki banyak liabilitas yang tampak mata, maka tentu saja itu semakin membuat kehidupan saya beserta keluarga menjadi enak dan nyaman. Coba bandingkan dengan mereka yang nggak punya liabilitas, wah...pasti nggak enaklah hidupnya. Bisakah Anda hidup tanpa telepon, tanpa televisi, nggak ada listrik memadai, dll.


Bagi saya, dengan memiliki banyak liabilitas, maka saya justru sangat terpacu dengan semangat membara untuk menambah aset. Dan, aset saya ini bukan hanya yang bersifat duniawi, melainkan juga yang bersifat jangka panjang untuk kebutuhan akhir nanti di negeri akhirat.


Dan, saya juga sangat meyakini, bahwa aset saya untuk dunia akhirat nanti, juga pasti muncul di dunia ini. Dan memang begitu kenyataan yang saya dapatkan. Inilah yang tidak diajarkan Kiyosaki maupun pakar finansial dari negeri barat sana. Para pakar finansial ini, biasanya menyebut investasi untuk dunia akhirat juga sebagai liabilitas...hahaha... padahal menurut saya itu benar-benar aset yang mendatangkan kekayaan di dunia juga.


Nah, bagi saya memiliki banyak liabilitas sangat penting, siapa takut? Menurut saya punya banyak liabilitas itu penting, karena justru bisa memberikan semangat membara untuk berbuat lebih berguna dan lebih baik lagi bagi diri sendiri, keluarga maupun orang lain.


Memiliki liabilitas, mengapa tidak? Bagaimana dengan Anda?



Salam Luar Biasa Prima!

Wuryanano

13 comments:

fajri Salim said...

Wah..menarik sekali posting pak nano ini,tentang teori kiyosaki kalau saya pribadi setuju dengan pak nano intinya tidak menelan bulat2 teori robert kiyosaki tapi sebatas alat"men diagnosa kondisi financial saya, karena dengan faham mana aset dan mana liability kita jadi lebih mudah mengelola dan merencanakan investasi,adapaun menerapkan teori ini secara keseluruhan sampai2 menyebabkan kita jadi orang terlalu perhitungan bahkan menjadi pelit itu bertentangan dengan agama, kalau dilihat dari kacamat kiyosaki,zakat,sodakoh,infak dsb itu adalah liability......tapi dari kacamata agama itu justru membawa ketenangan jiwa dan kebahagiaan bahkan membuka rezeki berlipat lipat,jadi kesimpulan nya teori manusia itu relatif dan tuntunan agama itu mutlak kebenarannya.

petergarbiel said...

Setuju sekali, teori R kiosaki sangat berbahaya untuk org yg tak mencernanya secara dalam.jika tak ada liabilitas yg ok, siapa yg percaya untuk memberikan proyek besar atau pinjaman bank, pihak bank & org luar, pertama kali pasti menilai diri kita dari apa yg nampak,selanjut baru kualitas diri yg kita miliki.

Wahyunansyah said...

100% setuju
mari jadikan liability di dunia sebagai asset untuk akhirat nanti..
The more you give, the more receive

F said...

waw. menarik sekali postingannya. menurut saya, zakat sedekah dan infak itu aset pak. aset untuk kehidupan setelah ini. sekolahkan anak ke sekolah yang terbaik juga aset pak. tapi untuk 'kita jadikan liability sebagai pemacu semangat agar dapat bekerja lebih giat', saya setuju dengan bapak.

:)

salam hangat,
Fikri

saya baru me-launch blog saya. silahkan datang untuk menyumbangkan pendapat pak. :)

Ono Karsono said...

Luar biasa prima apa yang disampaikan Pak Wuryanano.

Trims atas pencerahannya. Sekedar menambahkan saja, liabilitas berupa mobil pribadi, rumah pribadi, koleksi busana, komputer pribadi, dan yang serba pribadi lainnya adalah salah satu unsur penunjang untuk menambah kepercayaan orang kepada kita. Paling tidak orang akan melihat bahwa kita ada best effort untuk menghasilkan semua itu.

Liabilitas tersebut akan menunjang performa kita juga, karena memang menunjang pekerjaan dan membuat hidup ini lebih nyaman.

Itu hanya pendapat saya Pak. Kalau ada yang salah mohon koreksinya :D .

Salam Fuuuuuuuuuuuntastic,

Ono Karsono
Blog : http://ono-karsono.blogspot.com

Anung Wakhid Ameri-CAN said...

Wah..wah.. wah.. Salut untuk Pak Wuryanano.

Memang hidup ini harus harus di nikmati..

Ya.. salah satunya seperti nasehat dari pak Wuryanano untuk memperbanyak LIABILITAS.
Hmm... Asal tidak kebablasan kan pak ???

Nanti jadinya tidak menikmati Hidup, tapi malah menikmati Hutang.. hehe.

Kalo masalah menikmati hidup :
Pilih yang bisa dilihat ATAU pilih yang tidak bisa dilihat ??? Apaan
tuuhhh...

Salam bahagia di hati yang tidak bisa terlihat oleh mata,

Anung Wakhid Ameri-CAN
(entrepreneurindonesia@yahoo.com)

Roes Suprapto said...

Pak Nano sharingnya Luar Biasa Prima! Matur nuwun Pak.

"Oleh2" dari Seminar Financial Revolution Feb08 dengan Pak Tung, kita diajarkan untuk bijak dalam mengalokasi keuangan, sekian % untuk tabungan, %untuk kebutuhan ini itu & sekian % untuk kesenangan.

Hebatnya sekian % untuk kesenangan itu adalah 50% nya (cmiiw), jadi apakah kesenangan adalah liabilititas? , dari kaca mata mana kita memandangannya atau mem-presepsi penting tidaknya kesenangan.

Alokasi kesenangan sangatlah penting untuk menyimbangkan kehidupan. Setelah keringat bercucuran (hiperbol nih hehe), kita juga perlu menguapkan butir2 keringat itu dengan menikmati hasil kita untuk kesenangan / kebahagian bersama keluarga : rekreasi, penyaluran hobi, menikmati teknologi.

Ah kalau saya sih enaknya fun n menikmati hidup ini, hidup hanya sekali, setiap detik sangat berarti apalagi disaat kita sehat wooww senangnyaaaa. . amboii indahnyaa. Setiap detik bercanda tawa dengan anak, suami & orang2 tercinta perlu kita nikmati selagi kita masih bersama dalam satu atap rumah Sakinah.

Saya aja "iri positif" saat Pak Tung bilang bhw beliau bisa berduaan saja dengan istri di Menara Eifel hasil dari liability ini (alokasi kesenangan) & bermain salju dengan keluarganya ...hehe, jadi ingin main salju & melihat jejak Rasul di negeri orang.. ahhh bersyukurnyaaa. .

Hehe..saya kok jadi ngayal & "narsis" :), Liabilitas so what gitu loh hehe..

Salam Fuuntastic, Dahsyat & Luar Biasa Prima tuk semua!
Roess - 0817 6391271

http://kamiilahmum.multiply.com
http://alqiada.blogspot.com

Siwi LH said...

Saya baca jadi ketawa-tawa sendiri pak?.... inget ada orang di samping saya pernah bilang yah selama kenyamanan bisa dibeli kenapa enggak? Boros dan suka weweh itu memang beda ya pak?.. bergantung niatnya..hehehe. ...

Jadi inget kemaren dapet proyek hampir dua juta, diitung-itung bisa untung 750ribu karena mikir kok masih banyak untungnya, akhirnya kasih bonus, sehingga untung jadi tinggal 350ribu, akhirnya bagi-bagi buat yang bantuin, trus sisa 250ribu, mau dimasukkan dompet ada temen telpon butuh uang 250ribu, la mosok mau bilang nggak punya, lak mbujuk itu...hehehe. ... Semangatttt. ..


Salam Hebat Penuh Berkah,
Siwi LH
cahayabintang.wordpress.com
siu-elha.blogspot.com

Eli Sofah said...

Benar Pak Nano,bukankah kalo kita meninggal..harta yg kita cape2
peroleh tidak kita bawa sampai ke liang kubur.Asalkan tidak terlalu
berlebihan konsumtifnya dan untuk kenyamanan hidup kita, hal itu
wajar saja.

Memang efeknya selanjutnya makin banyak orang yg akan datang meminta bantuan ke kita. Tapi bukankah ini bentuk Tuhan mengangkat derajat kita, mengangkat ke tempat yg lebih tinggi.

Seyogyanya sebagai bagian alam semesta, kita menyikapinya harus seperti alam berperilaku. Seperti Angin yang bertiup dari tekanan tinggi ke tekanan yg rendah dan seperti air yang mengalir dari dataran tinggi ke dataran rendah.. Supaya alam menemukan keseimbangannya. Maka ketika rezeki kita lbh baik maka harus pula dialirkan kepada yang membutuhkan.

SALAM FUNTASTISSSSSSSSS. .
Eli Sofah
mobile: 0818 06767670
email: eli_sofah@yahoo.com
LILIN BATIK at Pasaraya Blok M - 4th floor
BULAN BATIK at Mangga Dua Square - UG floor

Juni Tri Widodo said...

mmmhh.....menurut saya ngikut apa kata Nabi Muhammad SAW saja deh, sudah pasti baik ...he3...

Salam Luar Biasa Prima, Pak...!!!!
Juni Tri Widodo
(junitri@telkom.net)

Lutvi Avandi said...

Saya sih mikir simple aja. Maklum belum baca teorinya om Robert. Saya melakukan berbagai usaha yang secara teori akan menghasilkan uang, setelah itu pasrah dan pasang LoA sebaik-baiknya. Uang lalu berdatangan. (maaf saya tak suka istilah mencari uang.. lebih suka dicari uang soalnya.. hehe)

Setelah uang datang, trus ngapain? Sementara ini membangun asset. Lagi nabung buat beli rumah. Tapi saya ndak mau pelit urusan nabung. Saya nabung sesuka hati saya. Itupun bukan saya yang nabung, tapi pembeli CD saya.. Pokoknya saya tahunya pas cek rekening ada isinya.

Saya menikmati uang yang berdatangan. Beli ini itu sesuka hati. Toh rejeki itu ndak datang hari ini aja kan? Setuju dengan Pak Wurya, menghitung-hitung harta justru membuat kita ketahuan kalau kurang. Mending menikmati setiap rupiah yang hadir ke tengah-tengah kita.

Contoh lagi, 1 minggu yang lalu saya coba menghitung-hitung uang saya di akhir bulan. Saya harus bayar komisi ke member cafebisnis, harus bayar utang, bayar speedy, listrik, dll. Setelah dihitung2 lha kok minus... hehehe..

Lalu saya sadar, ngapain dipikir, saya ndak wajib mbayar kok. Saya hanya pengen infaq ke member cafebisnis. Infaq ke orang yang uangnya dititipkan ke saya, infaq ke PLN, infaq ke Telkom, dll.

Alhamdulillah infaq saya bulan ini lumayan banyak... alhasil, ternyata uang sayapun masih banyak dan bulan ini pertama kalinya ada uang sisa di tabungan saya... hahaha..

Salam,
Lutvi Avandi
Telp. 031-72320912

glidik said...

saya setuju, hidup ini adalah pilihan. Pilihan untuk kita selalu memiliki liabilitas adalah positif aja kenapa tidak, kita bisa menikmati dengan semua yang kita miliki. Kita bisa menanam padi yang pasti nanti bisa kita masak menjadi nasi tapi juga akan tumbuh rumput yang bisa menjadi petani selalu rajin merawat padinya. Tapi kalau kita menanam rumput kita tidak bisa menuai padi tumbuh. Artinya kita hidup tidak hanya di dunia tapi juga untuk di akhirat. Tul tidak pak...salam

wild-anarchy said...

miliki liabilitas...mengapa tidak?

teori kiyosaki benar dari sudut pandang ekonomi

seseorang yang menelan mentah mentah teori tersebut akan merubah aset menjadi liabilitas

contoh: karena terlalu pelit keharmonisan dalam bersosial menjadi hancur terutama keluarga--kalau ditilik lebbih dalam lagi, keharmonisan adalah sebuah aset bagi kita untuk maju--apa jadinya jika itu hancur?

aset ekonomi anda akan menjadi sia2

pada akhirnya semua aset atau liabilitas itu tergantung dari penempatan situasi dan kondisi yang tepat